Ayahku Berjenis kelamin Wanita

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dan berkenalan dengan seseorang, orang yang ramah, berperawakan sedang, umurnya lebih tua dua tahun dari saya. entah siapa yang memulai, semuanya mengalir begitu saya, kami merasa banyak memiliki kesamaan hobi dan minat, mungkin hal ini yang membuat obrolan terus mengalir. mulai dari obrolan yang sangat ringan seputar lucunya film-film kartun, dilanjutkan dengan batu akik, hingga pada akhirnya kami mengangkat topik ” Cara Mendidik Anak ” sebagai bahan obrolan. di topik ini saya benar-benar bersemangat. saya sangat menyukai topik ini, tak jarang saya mencari dan melahap bacaan yang berkaitan dengan bagaimana mendidik anak yang baik. karna sebagai Bapak Baru, saya masih butuh banyak belajar akan hal ini.

dia memulai dengan pandangan nya terhadap sistem pendidikan di negara kita, dan mengungkapkan kekecewaannya terhadap guru di indonesia. disini saya lebih banyak diam, karna tidak begitu memahami harus seperti apa sistem pendidikan yang baik itu ? atau guru yang baik itu harus bersikap seperti apa ? dan kalaupun saya, atau kami berdua saat ini, menemukan solusi yang sangat tepat untuk masalah ini. lalu apa iya, hanya kami berdua dapat merubahnya ?.

saya mengajaknya untuk mendiskusikan di tingkat yang lebih kecil, tingkat keluarga, tidak jauh-jauh cukup di dalam rumah saja. saya pikir ini lebih berguna, minimal untuk pembelajaran terhadap diri saya sendiri. saya menjabarkan apa yang sudah pernah saya baca, yang sudah pernah saya lihat, dan yang sudah pernah saya dengar perihal cara mendidik anak. semua yang saya utarakan merupakan rangkuman dari kesemua hal tersebut, tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap anak yang nakal, bagaimana cara mengajarkan anak untuk menghormati orang yang lebih tua, bagaimana menggali potensi si anak. Saya sangat bersemangat dan hampir saja saya mengutarakan kebohongan karna terlalu berapi-apinya saat mengemukakan pandangan saya untuk hal tersebut, beruntung lawan bicara saya memotong pembicaraan saya dengan sebuah pujian. “Saya kagum dengan pandangan anda, dan saya ingin mengenal lebih jauh dengan Ayah anda, karna saya yakin, sikap dan pandangan anda saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh orang tua yang mendidik anda “.

Saya diam, kemudian tersenyum, hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas pujiannya. obrolan kami berhenti sampai disitu karna dia memiliki kerjaan yang harus diselesaikan. setelah dia berpamitan untuk pergi, sambil mengamati punggungnya saya menjawab dalam hati ” ya… ayah saya adalah orang yang sangat hebat, dia bekerja keras agar saya bisa bersekolah dan berusaha agar sederajat dengan orang lain meski di kondisi ekonomi yang kurang beruntung. ayah adalah orang yang akan marah besar saat saya malas untuk belajar bermain gitar, yang saat ini saya sadari bahwa saat itu, ayah sedang mencari dan menggali potensi yang tepat di dalam diri saya. ayah akan rela menguras tabungannya untuk membelikan meja komputer ketika melihat saya bersemangat mengumpulkan satu demi satu komponen komputer hingga terbentuk komputer untuh dalam waktu 4 bulan. ya…. itu ayah saya, dan jenis kelaminnya “Wanita” dia Ibu juga ayah bagi saya.

Saya masih tersenyum sambil melihat lawan bicara saya makin menghilang di kejauhan, senyum untuk dua jagoan kecil dirumah, sembari berkata dan berjanji di dalam hati “kalian tidak akan mengalami hal yang sama seperti apa yang sudah ku lewati”